Ajeng Ayu Salma (19) akhirnya bisa bertemu kembali dengan Ibunya S (38).
Sebuah perjalanan panjang kisah anak manusia dalam mencari jati dirinya. Berawal pada tahun 2006 sang Ibunda berpisah dengan suami dan menggalami kesulitan ekonomi.
Pada saat itu sang Ibu memutuskan menyerahkan Ajeng ke temannya, yang menurutnya itu merupakan pilihan terbaik.
Semula S masih bisa berkomunikasi, namun lama-kelamaan keadaan berubah. S tidak bisa berkomunikasi dengan sang Ajeng.
“Saya pikir ke orangtua asuh lebih baik karena saya tidak punya tempat tinggal. Tahun 2006 saat Ajeng berusia 4 tahun. Selama ini saya hanya bisa mendoakannya, saat makan saya dalam hati berbicara menawari nak makan,” dikutip dari Kompas (7/9).
Setelah tinggal bersama orangtua angkatnya, ajeng sempat beberapa kali pindah dari Blitar ke Kalimantan.
Saat berada di Blitar Ajeng mendapat perlakuang tidak menyenangkan dan kekerasan fisik.
Saat SD bahkan sempat terfikir untuk kabur dari Rumah.
Pada waktu di bangku SMP saat membersihkan rumah, Ajeng menemukan dokumen hak asuhnya, serta KTP ibu kandungnya.
Ajeng berinisiatif menceritakan hal ini kepada guru Bimbingan Konseling (BK) dengan harapan mendapat bantuan dari sang guru.
Namun beberapa hari kemudian orangtua Ajeng diundang kesekolah. “Papa datang ke sekolah dan menanyakan dapat dokumen dari mana, lalu dokumen diambil papa” katanya.
Saat duduk di bangku SMA Ajeng diberi kabar tidak naik kelas dan di drop out (DO) dari sekolah.
Karena merasa rajin dan berprestasi maka Ajeng merasa heran mendapat kabar DO dari sekolah.
“Dari kejadian ini semua mulai disita seperti laptop, gawai jadi nggak bisa komunikasi” katanya.
Sebelum gawai diserahkan kepada orangtua angkatnya Ajeng mencopot SIM-nya, dan memasangnya di ponsel lamanya.
Dengan menggunakan ponsel tersebut ia menghubungi kawannya dan berniat kabur dari rumah. Sebelum berangkat ia sudah menyiapkan dokumen dan pakaian.
“Saat itu hanya membawa beberapa potong baju, sama uang Rp. 200.000. SEtelah itu saya berniat mencari kerja di Malang karena kotanya lebih besar pasti ada pekerjaan di sana.” kata dia.
Sesampainya di Malang Ajeng mencari kamar kos dan beruntung mendapat pekerjaan sebagai pramusaji di warung makan.
Awalnya ia tidak diterima karena masih berumur 16 tahun. Namun setelah diceritakan masalahnya akhirnya di diterima bekerja.
Pengalaman bekerjanya juga bertambah menjadi pengasuh bayi dan bekerja di sebuah binatu.
Karena penasaran ingin bertemu dengan orangtuanya akhirnya Ajeng membuat akun media sosial, Twiter, Instagram dan Facebook dan menceritakan pencariannya.
Hingga pada suatu saat ada komen yang menceritakan bahwa Ajeng adalah saudaranya yang sedang dicarinya juga. Ternyata dia adalah Bibi dari ayah kandung Ajeng.
Tak mudah percaya namun akhirnya Ajeng bisa melakukan video call dengan Nenek dan saudaranya yang lain.
Dalam beberapa kesempatan video call Ajeng menanyakan keberadaaan ayah, yang dijawab sedang bekerja oleh keluarga neneknya.
Namun tak sanggup menahan rahasia, diceritakan bahwa sang ayah telah meninggal dunia 4 tahun yang lalu.
Setelah bertemu dengan keluarga ayah dan tinggal di Bogor, Ajeng mencari jejak sang Ibu melalui akun twitter pada akhir tahun 2019.
Ajeng mendapat banyak bantuan bahkan dari KPU Sleman dan juga Disdukcapil
Di sisi lain sang Ibu yang pada saat itu sedang sakit sangat merindukan sang anak.
“Saat itu sakit, pikiran saya sudah jelek. Saya ingin sebelum meninggal bertemu dengan anak saya,” katanya.
Tak kuasa menahan rindu S kemudian mencoba menghubungi keluarga di Bogor dan bisa terhubung dengan Ajeng pada 13 Agustus 2021. Hingga akhirnya Ajeng menemui ibunya ke Yogyakarta pada tanggal 29 Agustus 2021.
Pada pertemuan itulah S menceritakan latar belakang kejadian pada tahun 2006, dan Ajeng pun tak menyimpan marah kepada sang ibu.
“Alhamdulillah enggak marah, mungkin kecewa. Saya juga berpesan kepada Ajeng agar jangan marah kepada orangtua angkatnya, bagaimanapun Ajeng diasuh dan disekolahkan” katanya.















