Tiga tokoh muda bidang Pendidikan dan kesehatan mendapatkan penghargaan Frans Seda Award (FSA) 2021. Mereka adalah Ai Nurhidayat pendiri Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bakti Karya Parigi, Pangandaran, Jawa Barat, Dewi Wulan, pendiri Yayasan Terus Berjuang (Terjang), Jawa barat dan Faiz Fakhruddin pendiri Sekolah Gajah Wong, Ledhok Timoho, Yogyakarta. Ini juga kali pertama FSA memberikan penghargaan kepada tiga tokoh muda. Acara yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 2011 dan dilaksanakan setiap dua tahun ini, selalu memilih dua pemenang disetiap periodenya.
Pengumumam FSA digelar secara daring pada Senin (4/10/2021) malam dengan tema “Sinergitas Pendidikan dan Kesehatan Saat dan Pasca-Pandemi.” Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan, turut hadir secara virtual dan memberikan kuliah umum. Frans Seda Award 2021 diberikan kepada tokoh mudah yang telah membuktikan karya dan kontribusinya kepada masyarakat di bidang Pendidikan dan kesehatan. Para pemenang mendapatkan apresiasi berupa uang tunai. Ai Nurhidayat pemenang dari kategori Pendidikan dan Dewi Wulan pemenang dari kategori Kesehatan mendapatkan hadiah uang tunai masing-masing senilai Rp 75 juta. Faiz Fakhrudin pemenang kategori favorit mendapatkan hadiah uang tunai Rp 50 juta.
Angela Oktavia Suryani, Ketua Panitia Frans Seda Award periode 2020-2021 menyampaikan “Penghargaan ini diberikan kepada insan-insan muda Indonesia yang inspiratif. Pada usia yang masih muda mereka mampu mengupayakan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat baik secara ekonomi, pendidikan, sosial dan kesehatan. Ini merupakan upaya nyata komunitas Atma Jaya menjadi bagian dari bangsa Indonesia dengan menghidupi semangat Untuk Tuhan dan Tanah Air.”
Kisah Inspiratif Pemenang FSA 2021
Ai Nurhidayat menginisiasi SMA Bakti Karya Parigi tahun 2012. Pemuda Pangandaran, lulusan Universitas Paramadina ini menyelenggarakan sekolah gratis selama tiga tahun melalui gerakan publik, Selain itu Ai mengusung Bhineka Tunggal Ika melalui kelas multikultural disekolahnya, SMK Bakti Karya Parigi telah berhasil mempertemukan lebih dari 150 siswa dari 35 suku dan 25 provinsi berbeda untuk saling mengenal. “Pertemuan dan hidup bersama adalah cara terbaik untuk mengubah persepsi orand dalam memandang keragaman sebagai suatu anugerah,” ujar Ai.
Dewi Wulan mendirikan Yayasan Terus Berjuang (TERJANG) pada 2013. Yayasan ini mendampingi orang yang terkena TBC dan resisten obat (RO) dan membangun kerja sama dengan rumah sakit dan puskesmas. Rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan TERJANG yaitu memberikung dukungan psikososial dan motivasi, meningkatkan akses terhadap dukungan pengobatan dan perawatan, meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit TB khususnya yang resisten obat serta mencarikan donator untuk memenuhi kebutuhan pasien.Sekolah Gajah Wong didirikan oleh Faiz Fakhruddin pada tahun 2009 dengan tujuan memutus rantai kemiskinan dan memberikan fasilitas Pendidikan kepada anak usia 0-15 tahun yang tidak mendapatkan akses. Sekolah ini berawal dari Kampung Komunitas Ledhok Timoho, Yogyakarta yang merupakan kampung dengan mayoritas masyarakat imigran, pengamen, pemulung dan sector informal lainnya. Sekolah Gajah Wong tidak memungut biaya kepada peserta didik dan menekankan kurikulum pada pada Pendidikan lingkungan. Sekolah ini juga memberikan pembekalan keterampilan kepada orang tua murid seperti pelajaran menjahit.
















