NewsDetik.Co Dr. Eisha M. Rachbini, ekonom Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) mengungkapkan pokok-pokok pikiran alm. Eny Sri Hartati yang perlu dijadikan bahan perbaikan perekonomian nasional diantaranya adalah daya saing produk dalam negeri yang terus menurun dan tersisih produk impor.
Hal lainnya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas industri. Sementara terlihat indeks Manufaktur (PMI) terus menurun dari 50.9 (2018) menjadi 49.7 (2019), dan 44,69 (2020). Untuk itu sangat diperlukan investasi yang memberikan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja.
“Diperlukan investasi terkait rantai pasok global dan kinerja perdagangan Indonesia. Sementara itu tercatat global competitiveness Index Indonesia terus turun dari semula diurutan 37 (2017), 45 (2018) dank e 50 pada 2019.” Katanya pada webinar Mengenang 100 hari Dr. Enny Sri Hartati bertema “Ekonomi Tumbuh dengan Daya Saing, Hilirisasi, dan Industri yang Kuat”.
Eisha menyatakan bahwa realitas daya saing industri manufaktur Indonesia berada pada ranking 40 dari 152 negara, dengan 44,2 % nya masih bertumpu pada sumber daya alam dengan teknologi rendah.
“Hal itu diperburuk oleh kinerja industri manufaktur nasional yang juga terus turun dari berkisar 11 % pada 1993, lalu anjlok pada 1998, dan setelah itu kinerja industri manufaktur dalam negeri hanya 5 % (2013). Kinerja industri pengoalah juga jatuh dari sekitar 75,73 pada 2013 menjadi hanya 67,60 pada 2020.” ujarnya.
Eisha juga mengungkakan dampak pandemi covid 19 terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelum pandemi mencapai 5.0 % pada 2018, saat pandemi jatuh menjadi minus 2 %. Padahal secara long term economic growth, pertumbuhan ekonomi Indonesia masa orde baru pernah mencapai 7,1 % – 7,7 %.
Potensi industri manufaktur dan tantangannya ke depan dapat diberikan masukan beberapa hal yakni melakukan hilirisasi manufaktur berbasis komoditas sehingga mendorong ekspor dan memperbaiki neraca perdagangan. “Tantangan yang dihadapi pertama, butuh investasi besar guna mendukung peningkatan value added komoditas. Kedua, Dibutuhkan kebijakan dan regulasi yang mendukung percepatan investasi dan hilirisasi sektor manufaktur. Ketiga, ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan.” pungkasnya.
















