Demi Kopi

Air Bersih Bernilai Rupiah: Menakar Ekonomi Air Perpipaan Wilayah Puskemas Setu I

  • Share
banner 468x60
Sri Werdiningsih Retno Asmara & Rahab | Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jendral Soedirman

Bayangkan jika setiap tetes air yang kita minum memiliki harga yang nyata dalam rupiah. Tidak sekadar untuk dijual, melainkan dihitung sebagai investasi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Pada wilayah Puskesmas Setu I Kabupaten Bekasi masyarakat yang tinggal pada wilayah perumahan mengantungkan sumber air minum pada pelayanan sarana air perpipaan melalui Penyediaan air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dan sumur satelit. Keduanya menjadi urat nadi penyediaan air minum, terutama di tengah keterbatasan layanan Perumda Tirta Bhagasasi Kabupaten Bekasi dimana diwilayah Setu  hanya mampu melayani 39 Sambungan Rumah (SR) dan kualitas air dangkal pada wilayah perumahan kurang memadai karena sebelumnya sebagian besar adalah area persawahan.  Pertanyaannya : sudahkah kita menakar nilai ekonominya?

Data Dukcapil tahun 2024 menunjukkan 116.686 jiwa tinggal di wilayah Puskemas Setu I. Sebagian besar masyarakat menggunakan sumur bor listrik, sementara sekitar 16 ribu jiwa mengandalkan jaringan sarana air perpipaan melalui Pamsimas dan sumur satelit. Namun, hingga tahun 2024, dari 35 penyelenggara air perpipaan baik Pamsimas dan sumur satelit baru 43% penyelenggara air yang melakukan pemeriksaan laboratorium kualitas air secara swadana. Sesuai dengan Permenkes No. 736/Menkes/Per/VI/2010 Penyelenggara air perpipaan yang menyelenggarakan air minum untuk tujuan komersial wajib melakukan pengawasan internal namun karena terbatasnya dana untuk melaksanakan pemeriksaan laboratorium secara swadana dan kurangnya pengetahuan penyelenggara air perpipaan menyebabkan masih terdapatnya kesenjangan sebesar 57 %. Dengan melaksanakan pemeriksaan laboratorium akan didapatkan hasil apakah air memenuhi persyaratan untuk air minum dan dengan diseminasi hasil yang baik kepada masyarakat sebagai pelanggan akan meningkatkan kepercayaan pelanggan untuk menggunakan sumber air perpipaan untuk kebutuhan minum dan sanitasi lainnya. Faktor kemudahan mendapatkan air kemasan dan air isi ulang dari depot air minum disekitar masyarakat juga membuat masyarakat tidak memanfaatkan sarana air perpipaan secara maksimal karena dianggap lebih praktis membeli air kemasan ataupun air isi ulang

banner 336x280

Valuasi lingkungan membantu kita menghitung nilai ekonomis dari keberadaan air minum. Ada tiga dimensi yang bisa ditakar :

  1. Manfaat langsung:  apabila kita mengambil contoh sederhana. Satu keluarga yang sebelumnya mengeluarkan Rp.150.000 per bulan untuk membeli air kemasan ataupun isi ulang, dengan adanya layanan air perpipaan hanya perlu membayar rata-rata Rp 40.000 – Rp. 50.000 per bulan. Ada penghematan sekitar Rp. 100.000 per bulan. Jika 1.000 keluarga terlayani, maka nilai ekonomi kolektifnya mencapai 1,2 miliar per tahun. Ini baru dilhat dari sisi pengeluaran langsung.
  2. Biaya yang dihindari : air bersih menekan angka diare dan penyakit berbasis air. Menurut WHO setiap satu dolar AS yang diinvestasikan dalam air bersih dan sanitasi dapat menghasilkan manfaat ekonomi 4 – 5 kali lipat. Manfaat tersebut meliputi berkurangnya biaya kesehatan, peningkatan produktivitas bagi pekerja dan kehadiran sekolah bagi pelajar, serta terciptanya lingkungan yang lebih sehat, aman, dan bermartabat.
  3. Nilai sosial dan ekologis : waktu yang dihemat untuk mengambil air karena menggunakan sarana air perpipaan berada dalam lingkungan rumah, meningkatnya kualitas hidup, dan nilai tanah permukiman akan memiliki lebih tinggi ketika tersedia layanan air layak.

Sarana air perpipaan seperti Pamsimas dan sumur satelit tidak boleh hanya dipandang sebagai “sarana darurat” untuk warga, tetapi harus masuk ke dalam kerangka ekonomi hijau dan dikelola secara berkelanjutan sesuai dengan SDG’s tujuan ke enam menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi berkelanjutan. Jika valuasi ekonomi dimasukkan dalam kebijakan, maka air bersih akan diperlakukan sebagai aset pembangunan bukan sekadar biaya pelayanan.

Air bersih adalah hak dasar manusia, serta aset ekonomi yang sering kali tidak dihitung. Dengan memahami valuasi lingkungan penyediaan sarana air melalui jaringan perpipaan, kita bisa melihat bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam pembangunannya akan kembali berlipat ganda dalam bentuk kesehatan, kesejahteraan, dan keberlanjutan lingkungan. Sudah saatnya pemerintah, akademisi, dan masyarakat berhenti melihat air hanya sebagai “biaya pelayanan,” melainkan sebagai investasi masa depan bangsa. Karena di balik setiap tetes air yang mengalir dari pipa, terdapat nilai ekonomi yang menopang kehidupan kita semua.

banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *